Urgensi Al-Qur’an Bagi Kaum Muslimin
Al-Qur’an yang diturunkan Allah SWT secara berangsur-angsur
selama 23 tahun telah merubah kehidupan bangsa Arab yang terbelakang,
jahiliyah dan ummi menjadi umat yang maju bahkan mampu menaklukkan dua negara
adidaya kala itu, yaitu Romawi dan Persia. Membebaskan bangsa-bangsa dari
belenggu kezaliman penguasa dan kegelapan kebudayaan mereka. Bangsa yang bermacam-macam
itu melebur menjadi satu umat, yakni umat Islam. Bahasa mereka pun menjadi satu
yakni bahasa Arab, bahasa al-Qur’an mereka.
Berabad-abad dalam naungan Khilafah Islamiyyah, al-Qur’an menjadi pedoman hidup
kaum muslimin, mereka terapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
al-Qur’an juga menjadi bacaan mereka sepanjang masa.
Tak satu pun kitab yang dibaca oleh begitu banyak orang, dihafal huruf demi
huruf, dipelajari dan dibicarakan, melebihi al-Qur’an. Al-Qur’an bukan hanya
dipelajari isinya, tetapi juga susunan redaksinya, pemilihan kosa katanya,
kandungan maknanya yang tersurat dan tersirat hingga pada kesan yang
ditimbulkannya. Semua itu dituangkan dalam berjilid-jilid buku yang ditulis
oleh banyak ulama. Tidak satu pun bacaan yang diatur tata cara membacanya, panjang-pendeknya,
tebal-tipisnya, berhenti tidaknya, lagu dan iramanya, juga etika membacanya
seperti halnya al-Qur’an.
Tentang pengaruh bacaan terhadap perubahan masyarakat, terdapat suatu penelitian
oleh seorang guru besar Harvard University AS di empat puluh negara untuk
mengetahui faktor kemajuan atau kemunduran negara. Hasilnya menunjukkan bahwa
salah satu faktor utamanya adalah materi bacaan yang disuguhkan dan dibaca oleh
masyarakat.
Fakta sejarah menunjukkan bahwa kebangkitan bangsa Arab yang pertama kali me-
meluk Islam itu sangat dipengaruhi oleh al-Qur’an. Apa rahasianya?
Kemukjizatan Al-Qur’an
Al-Qur’an memiliki tiga fungsi utama. Pertama, sebagai mukjizat abadi Nabi
Muhammad saw. Kedua, sebagai pedoman hidup (minhajul hayah) kaum muslimin.
Ketiga, sebagai media ibadah kaum muslimin.
Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang dimiliki Rasulullah SAW. Al-Qur’an
telah menundukkan bangsa Arab yang pada waktu itu berada di puncak kesusasteraannya.
Mereka tidak mampu membuat karya sastera, yang keindahan bahasanya semisal
dengan al-Qur’an, apalagi yang melebihinya. Allah SWT telah menantang mereka:
"Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan
kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’an
itu dan ajaklah penolong- penolongmu selain Allah, jika kamu memang orang-orang
yang benar." (QS. Al-Baqarah [2]: 23-24).
Istimewanya, kemukjizatan al-Qur’an itu terus berlaku sepanjang masa meskipun
Rasulullah saw yang membawanya telah tiada. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya kami
benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr [15]: 9).
Jika Rasulullah SAW mampu membuktikan kerasulannya dengan al-Qur’an dan
generasi pertama kaum muslimin mampu mengalahkan Quraisy dan sekutu-sekutunya
dengan al-Qur’an, maka insyaallah kaum muslimin masa kini pun akan mampu
memenangkan persaingan global dengan al-Qur’an.
Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup (Minhajul Hayah)
Al-Qur’an menerangkan perjalanan yang telah dan akan dialami oleh manusia.
firmanNya:
"Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah
menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan kembali, kemudian
kepada-Nya kamu dikembalikan." (QS. Al-Baqarah [2]: 28).
Akhir perjalanan hidup manusia adalah di akhirat kembali kepada Allah SWT. Oleh
karena itu, orientasi hidup seorang muslim adalah akhirat. Al-Qur’an sering
menekankan pentingnya kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia dan membimbing
seorang muslim agar senantiasa mengejar sukses hidup di akhirat tanpa melupakan
kehidupan dunia. Firman Allah SWT:
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari
(kenikmatan) duniawi…” (QS. Al-Qashash [28]: 77).
Ayat tersebut memberikan pandangan yang jelas akan cita-cita dan target hidup
seorang muslim, yakni mendapatkan posisi terbaik di akhirat tanpa melupakan
dan meninggalkan kehidupan dunia, melainkan justru terjun dalam kancah
kehidupan dan menikmati berbagai kenikmatan dunia. Hanya saja caranya
menikmati dunia tidak seperti orang-orang yang berfikir bahwa kehidupan ini
hanya di dunia saja. Mereka sangat rakus tamak dan mencintai dunia dan bermewah-mewah
dengan kenikmatan dunia.
Sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia, al-Qur’an telah menjelaskan segalanya
--rinci maupun global-- yang diperlukan untuk memecahkan prolematika hidup
manusia dari masa ke masa. Dari ayat-ayatnya, ulama mujtahidin menggali hukum
untuk menyelesaikan problem-problem baru. Tiada habisnya ayat-ayat al-Qur’an
mampu menjawab seluruh tantangan zaman bagaikan sumur zam-zam yang tidak
pernah kering airnya.
Ayat-ayat al-Qur’an senantiasa menyinari kehidupan kaum muslimin. Disamping
memberikan gambaran yang jelas tentang masa depan hakiki umat manusia,
al-Qur’an juga menjelaskan dan memecahkan berbagai persoalan praktis
kehidupan manusia di bumi. Berkaitan dengan kehidupan manusia sebagai hamba
Allah, al-Qur’an menjelaskan hukum-hukum ibadah seperti do'a, dzikir, shalat,
puasa, zakat, dan haji. Bahkan puncak penghambaan kepada Allah yang membutuhkan
pengorbanan tertinggi pun telah dijelaskan oleh al-Qur’an ketika memaparkan
hukum-hukum berkaitan dengan jihad fi sabilillah. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta
mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan
Allah, lalu mereka membunuh dan terbunuh..." (QS. At Taubah [9]: 111).
Berkaitan dengan pembentukan sifat-sifat pribadi luhur, al-Qur’an menjelaskan
hukum-hukum tentang akhlaqul karimah, seperti jujur dan adil. Allah berfirman
:
"...Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong
kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada
taqwa..." (QS. Al-Maidah [5]: 8).
Untuk menjaga kelestarian jenis manusia, al-Qur’an menjelaskan berbagai hukum
tentang perkawinan, seperti penyusuan, pengasuhan anak, nafkah, waris,
kehidupan perkawinan, perselisihan dalam perkawinan hingga perceraian.
Dalam mengatur kehidupan masyarakat, al-Qur’an menjelaskan hukum-hukum berkaitan
dengan sistem pemerintahan. Menurut al-Qur’an, kaum muslimin wajib taat kepada
Allah, RasulNya, dan Ulil Amri. Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul (Nya), dan ulil
amri diantara kamu..." (QS. An-Nisaa' [4]: 59).
Ulil amri yang wajib dita’ati tersebut berkewajiban mengemban amanah melaksanakan
pemerintahan dengan menjalankan hukum-hukum Allah yang tercantum dalam al-Qur’an
dan as-Sunnah dan mereka tidak boleh terpengaruh oleh hawa nafsunya sendiri
maupun hawa nafsu masyarakat. Firman Allah SWT:
"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang
diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka..." (QS.
Al-Maidah [5]: 49).
Jika terjadi perselisihan antara rakyat dan penguasa kaum muslimin, al-Qur’an
menyuruh kedua pihak kembali kepada hakim yang akan menunjukkan jalan
keluarnya berdasarkan hukum Allah dan RasulNya. Allah berfirman:
"...Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul-Nya (sunnahnya)..."
(QS. An-Nisaa' [4]: 59).
Berkaitan dengan ekonomi, al-Qur’an menjelaskan berbagai hukum seputar
kepemilikan, pengelolaan, dan pendistribusian harta. Secara umum semua harta
yang ada di langit dan bumi ini diciptakan untuk manusia (QS. Al-Baqarah [2]:
29) halal. Namun ada harta-harta tertentu yang tidak boleh dimiliki misalnya
khamr dan babi. Juga ada cara-cara memilki harta tertentu yang dilarang seperti
mencuri dan merampok. Dalam mengelola harta, Allah menghalalkan jual beli
tetapi mengharamkan riba dan perjudian. Dalam masalah distribusi harta,
al-Qur’an mencegah terakumulasinya harta di kalangan orang-orang kaya saja.
Allah SWT berfirman :
"...Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja
di antara kamu..." (QS. Al-Hasyr [49]: 7).
Dengan demikian, al-Qur’an menjadi petunjuk dan pedoman hidup (minhajul hayat)
kaum muslimin dalam menjalankan amal individual maupun sosial, sehingga
mereka dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Al-Qur'an Media Ibadah
Faktor terpenting yang menjamin keberlangsungan fungsi al-Qur’an sebagai
pedoman hidup kaum muslimin adalah penguasaan mereka terhadap isi kandungan
al-Qur’an. Penguasaan dan pemahaman mereka terhadap al-Qur’an dijamin oleh
hukum-hukum ibadah yang berkaitan dengan al-Qur’an seperti membaca (tilawah),
mempelajari (tadaarus), dan memelihara hafalan (ta'ahud) al-Qur’an.
Jika kaum muslimin hari ini ingin memimpin dunia maka mereka harus menempatkan
al-Qur’an pada kedudukan yang sebenarnya yakni sebagai mukjizat teragung
Rasulullah SAW, sebagai media ibadah dan sebagai pedoman hidup. Wallahu a'lam
Aktivitas Untuk Mendapatkan Petunjuk dalam Al-Qur’an
Tidak berhenti sampai disini. Setelah mengimani al-Qur’an
sebagai kalamullah, Allah SWT memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan
hal-hal sebagai berikut:
1. Membaca Al-Qur’an
Seorang muslim akan berupaya sekuat tenaga membaca al-Qur’an secara rutin. Ia
merasa ada kekurangan dalam dirinya bila dalam satu hari saja tidak membaca
al-Qur’an. Bagaimana tidak, al-Qur’an merupakan firman Allah SWT yang berisi
surat-surat dariNya. Berisi petunjuk dariNya. Karenanya ia senang membacanya,
senantiasa terdorong untuk melatunkannya.
Selain dorongan kuat yang lahir dari keimanannya seperti tadi, seorang muslim
meyakini pula bahwa Rasulullah SAW seringkali memerintahkan hal tersebut.
al-Qur’an akan menjadi penolong bagi siapa saja yang membacanya. Abu Umamah ra.
Menyatakan ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:
“Bacalah al-Qur’an karena sesungguhnya al-Qur’an itu nanti pada hari kiamat
akan datang untuk memberi syafaat kepada orang yang membacanya.” [HR. Muslim].
Bahkan dalam riwayat yang lain:
“Orang yang membaca al-Qur’an dan ia mahir maka nanti akan bersama-sama dengan
para malaikat yang mulia lagi taat, kemudian Rasulullah melanjutkan “Orang yang
membaca al-Qur’an dan ia merasa susah didalam membacanya tetapi ia selalu
berusaha maka ia mendapat dua pahala” [HR. Bukhari dan Muslim].
Balasan membaca al-Qur’an itu juga berlipat ganda:
“Barang siapa membaca satu huruf dari kitabullah (al-Qur’an) maka ia mendapat
satu kebaikan. Setiap kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak
mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf tetapi alif satu huruf, lam satu huruf,
dan mim satu huruf.” [HR. At-Tirmidzi].
Jika dibacakan al-Qur’an, mereka akan mendengar dan memperhatikan dengan penuh
kesungguhan. Firman Allah SWT:
"Dan apabila dibacakan al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan
perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-A'raaf
[7]: 204).
Bila sudah nyata demikian, maka akan merugilah orang-orang yang tetap tidak mau
membiasakan membaca al-Qur’an.
2. Memahami Al-Qur’an
Allah SWT menurunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Oleh karenanya,
tidak cukup hanya sekedar dibaca, melainkan juga harus dipelajari untuk dapat
dipahami. Bila tidak, seseorang hanya akan menikmati indahnya bacaan tanpa memahami
kandungan yang dibaca. Apalagi pemahaman kita tentang al-Qur’an itu masalah
persoalan utama dalam hidup kita, yang menentukan apakah masuk surga atau
neraka !? Apakah bahagia atau nestapa!?
Lebih dari itu, mempelajari al-Qur’an merupakan perintah dari Allah SWT dan
RasulNya. Berkaitan dengan hal ini Nabi SAW bersabda:
“Bila suatu kaum berkumpul pada salah satu rumah-rumah Allah (masjid) dimana
mereka membaca dan mempelajari al-Qur’an maka turunlah ketenangan
ditengah-tengah mereka, serta mereka selalu diliputi oleh rahmat, dikerumuni
oleh malaikat, dan disebut-sebut Allah SWT didepan malaikat yang berada di
sisi-Nya.” [HR. Muslim].
Subhanallah. Orang yang membaca dan mempelajari al-Qur’an akan hidup tenang,
mendapatkan rahmat Allah, dikerumuni malaikat, dan dipuji-puji oleh Allah SWT
Dzat Maha Terpuji. Disamping memberikan harapan baik seperti ini, Allah SWT pun
mencela keras mereka yang tidak mempelajari al-Qur’an.
“Maka apakah mereka tidak mengkaji al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci” (QS.
Muhammad [47]: 24)
Nyatalah betapa urgennya mempelajari dan memahami al-Qur’an. Saking pentingnya
memahami al-Qur’an, semestinya memahami al-Qur’an dijadikan sebagai kebutuhan
makan sehari-hari, bahkan lebih dari itu. Makan hanya sekedar mengokohkan
tubuh. Sedangkan memahami al-Qur’an merupakan petunjuk arah menuju kebahagiaan
hakiki dan abadi!
3. Mengamalkan Al-Qur’an
Seperti telah dipahami, al-Qur’an bukanlah merupakan kumpulan pengetahuan
belaka, melainkan merupakan petunjuk hidup. al-Qur’an tidak sekedar dibaca dan
dipahami melainkan harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah SAW
dalam berbagai haditsnya menegaskan bahwa siapapun yang berpegang pada
al-Qur’an dan As Sunnah tidak akan tersesat selama-lamanya.
Allah SWT berfirman:
“Dan apa-apa yang diperintahkan oleh Rosul, ambillah! Dan apa-apa yang dilarang
olehnya, tinggalkanlah!” (QS. Al-Hasyr [49]: 7).
Jadi setiap ajaran yang ada dalam al-Qur’an mutlak dilakukan. “Kami mendengar
dan kami taat” begitu prinsip yang harusnya dipegang oleh seorang muslim.
Alangkah ruginya orang yang memahami al-Qur’an tetapi tidak mengamalkannya.
Orang seperti itu laksana pohon yang tidak berbuah. Bahkan ilmunya tidak
bermanfaat. Allah SWT berfirman:
”Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepada mereka Taurat, kemudian mereka
tidak memikulnya (tidak mengamalkan isinya) adalah seperti keledai yang membawa
kitab-kitab yang tebal. Amat buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan
ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang dzalim.”
(QS. Al-Jumu’ah [62]: 5).
4. Mengajarkan Al-Qur’an
Sabda Rasulullah:
”Sebaik-baik kamu sekalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan
al-Qur’an.” [HR. Muslim].
Hadits ini menggambarkan perintah untuk mengajarkan al-Qur’an. Tentu saja
mengajarkan al-Qur’an mencakup mengajarkan cara membacanya termasuk tajwidnya.
Namun, tidak hanya itu. Mengajarkan al-Qur’an juga mengajarkan isi kandungan
al-Qur’an. Bagaiaman tidak al-Qur’an itu merupakan wahyu yang diturunkan
sebagai petunjuk bagi manusia, dan pembeda antara yang haq dan yang bathil.
Semua perkara itu tidak dapat dicapai hanya dengan pintar membacanya, tetapi
perlu juga memahami apa yang dikandungnya.
Allah SWT berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hujjah (hikmah), nasihat yang baik,
dan berdebatlah dengan mereka dengan debat yang terbaik.” (QS. An-Nahl [16]:
125).
Maraji’:
Menjadi Pembela Islam, MR Kurnia, PSKII, 2001
Buletin Al-Ihsan