Pengunjung

Tampilkan postingan dengan label artikel keagamaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel keagamaan. Tampilkan semua postingan

Hendaklah Mereka Menahan Pandangannya

Diposkan oleh Unknown On 18.31 0 komentar
Hendaklah Mereka Menahan Pandangannya


"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". (QS. an-Nur:30)

Diriwayatkan dari Abu Umamah ra, Rasul SAW bersabda: "Seorang muslim yang memandang kecantikan wanita (bukan mahram) lantas ia menundukkan pandangannya niscaya Allah
akan melimpahkan kelezatan dalam beribadah." (HR.Ahmad)
"Pandangan adalah salah satu anak panah yang dimiliki iblis, maka barangsiapa yang memejamkan pandangannya karena Allah, maka Dia akan memberi rasa manisnya iman dalam hatinya, sampai pada hari dimana ia menghadap kepada-Nya." (HR. Ahmad)

Rasulullah bersabda: "Semua mata kelak akan menangis dihari kiamat, kecuali mata yang ditundukkan dari pandangan yang haram, mata yang terjaga ketika jihad fi sabilillah
dan mata yang darinya menetes air mata sekalipun sebesar kepala lalat karena takut kepada Allah." (Hadits marfu' diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dari Abu Hurairah ra.)

Harits al-Muhasiby berkata: "Kewajiban pendangan adalah tunduk dari segala yang diharamkan dan tidak berusaha mengintip sesuatu yang telah terhijab dan tertutup.
(Risalatul Mustarsyidin)

Berkata Imam Hambaly rahimakumullahu: "Hendaklah orang yang berakal itu waspada dari sikap mengobral pandangan. Sesungguhnya mata, ketika melihat seseorang yang oleh syariat dilarang untuk digauli dan dicampuri, mata akan menilainya sebagai sesuatu yang paling indah, paling baik, paling sesuai dan paling utama dari sesuatu yang halal dan baik baginya. Itu adalah hiasan dan tipuan syaithan. Mereka berusaha agar korban fitnah itu dapat digirng dari yang halal dan suci kepada yang haram dan kotor. Atau supaya ia menjadi benci denngan yang halal miliknya dan cinta kepada yang haram dan tidak halal baginya. Bisa jadi setelah itu timbul rasa rindu, setelah itu binasalah badan dan agamanya. Berapa banyak pandangan yang membuat pelakunya menjadi gelisah." (al-Furuu')

"Menundukkan pandangan mengandung rahasia hiknah yang banyak, diantaranya ia adalah perintah Allah, melaksanakannya berarti membawa kebahagiaan, mencegah pengaruh negatif akibat pandangan yang berbisa, menghidupkan ketabahan dan memberi ketenangan jiwa,
menjadikan hati bercahaya, pelakunya akan memiliki ketajaman firasat, menutup pintu-pintu gangguan syaithan, bahwa antara mata dan hati saling mempengaruhi." (Imam
Ibnul Qayyim al-jauziyah)

Seorang shaleh berkata: "Barangsiapa yang memakmurkan lahiriahnya dengan sunnah dan batinnya dengan muraqabah, menahan pandangannya dari perkara larangan, mencegah dirinya dari perkara syubhat dan memakan makanan yang halal, maka firasatnya tidak akan meleset."

Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan

Diposkan oleh Unknown On 18.27 0 komentar
Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan


Setiap Ramadhan, para penceramah mendapat tambahan kesibukan. Mereka diundang ke berbagai tempat untuk berceramah seputar puasa dan Ramadhan. Agar ceramahnya memiliki bobot ilmiah, mereka banyak mengutip dan menguraikan maksud ayat-ayat Alquran, Hadis atau kata-kata hikmah para ulama. Hadis-hadis yang mereka sampaikan bervariasi kualitasnya, ada yang shahih, hasan, dhaif, bahkan ada yang sangat dhaif sekali, yaitu hadis-hadis yang dikategorikan sebagai maudhu, matruk, munkar, dan lain sebagainya.

Untuk mengetahui hadis palsu berkaitan dengan Ramadhan, berikut akan dituliskan minimal tujuh hadis maudhu (palsu) atau matruk (semi palsu) agar dapat diketahui kepalsuannya, sehingga tidak disebut-sebut lagi dalam ceramah-ceramah Ramadhan.
Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan


Setiap Ramadhan, para penceramah mendapat tambahan kesibukan. Mereka diundang ke berbagai tempat untuk berceramah seputar puasa dan Ramadhan. Agar ceramahnya memiliki bobot ilmiah, mereka banyak mengutip dan menguraikan maksud ayat-ayat Alquran, Hadis atau kata-kata hikmah para ulama. Hadis-hadis yang mereka sampaikan bervariasi kualitasnya, ada yang shahih, hasan, dhaif, bahkan ada yang sangat dhaif sekali, yaitu hadis-hadis yang dikategorikan sebagai maudhu, matruk, munkar, dan lain sebagainya.

Untuk mengetahui hadis palsu berkaitan dengan Ramadhan, berikut akan dituliskan minimal tujuh hadis maudhu (palsu) atau matruk (semi palsu) agar dapat diketahui kepalsuannya, sehingga tidak disebut-sebut lagi dalam ceramah-ceramah Ramadhan.
The Lesser Banishing Ritual of the Pentagram

The Lesser Banishing Ritual of the Pentagram is the most complete ritual ever devised for preparing the place for magical work. The ritual as described here is used as a general means of opening and closing any ritual, meditation or exercise, banishing inimical influences, invoking helpful spiritual reinforcement to the circle, and strengthening the aura.

The ritual was first revealed by Aleister Crowley in his Magick in Theory & Practice,[1] and has appeared countless times in books published since, especially over the last twenty years. As a result it is probably the best known of all rituals. However, it has suffered from widespread misunderstanding due to the fact that Crowley, although extremely accurate, was very minimal in his treatment of such things. He rather hoped that others would take upon themselves the task of explaining magical technique in more detail, in the same way that the chef leaves the preparation of salad dressing to a kitchen assistant. The nearest Crowley got to the "nitty gritty" of magical techniques was in his book of letters, Magick Without Tears,[2] where among other things he gives detailed descriptions of how to accomplish "Rising on the Planes", a form of astral investigation, and how to improvise a magical temple from whatever happens to be around.
It seems unlikely that anyone could have foreseen the explosion of interest in magick that was to take place through the seventies and eighties, which the English writer and occultist Kenneth Grant dubbed The Magical Revival in the first of his series of "Typhonian Trilogies".[3] As more and more material became subject to mass distribution, it opened the way to a new generation of occultists. With this new generation, brought up on a diet of rock music and video entertainment, to whom sex and drugs were recreational activities rather than the closely guarded secrets of a sacred science, occultism began to be recognised not so much as something a person underwent arduous training for, but rather as another "alternative lifestyle". With the widening popularity of the use of magical techniques as a way to gain personal power, wealth, health and other material ends, many subtleties have been lost along the way. Worse, the reasons for taking up such pursuits in the first place have been twisted slightly, then later bent out of all recognition by second and third generations of occultists. In the present place it may be enough to remind the reader that the very hub of the Great Work has always been Service to Humanity. It was only in comparatively recent times that this has been taken to mean "Service to Myself!"
Now one thing needs to be made clear about the pentagram itself, which is of course integral to the subject of this inquiry. It is a five-pointed star, and as such, it is not only a symbol of Man dominating and controlling the elements, but it is a symbol of Mars, attributed to Geburah or "Severity" by the Qabalists, the fifth emanation upon the Tree of Life. It is therefore a symbol of energy, war, strife, and conquest. It might also be borne in mind that the "five" is a symbol of the hand or womb of the Goddess filled with creative fire, the feminine power that manifests the Will. The Lesser Banishing Ritual of the Pentagram is far more than merely a means of "getting rid" of things. Aleister Crowley commented in his notes on the ritual that:
"Those who regard this ritual as a mere device to invoke or banish spirits, are unworthy to possess it. Properly understood, it is the Medicine of Metals and the Stone of the Wise."[4]
In all the details of the ritual (which will follow shortly), one must be careful not to lose sight of the whole. The ritual, properly performed and with repeated and persistent practice, constructs a complete symbol in the aura or Sphere of Sensation of the practitioner. The idea of using a symbol of the Great Work in this manner is an exceedingly ancient one. In the East there is the holy mountain called Meru, which has its counterpart in Abiegnus of the Rosicrucian or Western Mysteries. There is the Building of the Temple. In times of remote antiquity, cities and gods were interchangeable terms.
First of all - after cleansing oneself of everything and anything that is not essential to the Great Work in hand, and having studied the sacred scriptures (at source) and meditated on them, and having cultivated fiery aspiration and acceptance of the path - all the powers of the mind and imagination are directed towards constructing a suitable symbol of the Universe (be that a God, a City, or a Man). One then places oneself at the centre of that symbol imaginatively, while physically assuming asana. Once the distractions of body and mind have been overcome and concentration perfected through use of the sacred symbol, a miracle may find its beginning there. The symbol properly constructed, the prana is then circulated in the subtle body along with the physical breath in the physical body. Various centres, rooms, chakras or sephiroth are activated, as according to instruction. And if the aspiration of the person leads all the while to That which is Above and Beyond, then perhaps - if God be willing! - an infinitely subtle transference of energy begins to take place.
It is worthwhile quoting once more from Crowley's notes on the ritual, concerning this matter of the aura or Sphere of Sensation:
"Every man has a natural fortress within himself, the Soul impregnable. ... Besides this central citadel, man has also outworks, the Aura. This Aura is sensitive, and must be sensitive. Unless it were responsive to impressions it would cease to be a medium of communication from the non-Ego to the Ego. This Aura should be bright and resilient even in the case of the ordinary man. In the case of the Adept it is also radiant. In ill-health this Aura becomes weakened. It will be seen flabby, torn at the edges, cloudy, dull. It may even come near to destruction. It is the one duty of every person to see that his Aura is in good condition."[5]
It is not only that the mind of the practitioner becomes sensitised to dimensions that were not previously apparent, but that the energy of the universe itself, by degrees, becomes realised as the basis of the self. However, this is also a very dangerous point in the spiritual journey of the aspirant. All too often, this realisation is taken to be a sign of Mastery, when in fact it is but the very beginning.
The regular use of the Lesser Banishing Ritual of the Pentagram may at the very least provide a means of beginning this work of Building the Temple. The careful placing of symbols in the aura may not only help to calm the mind and free oneself of unwanted influences, it may all the while transform the astral-etheric structure latent in the subtle body of the practitioner into a Matrix of the Divine Image. We must at all costs avoid that same territory becoming a chaos of symbols and thought-forms that together do not add up to anything but confusion.
While on this subject, it is worth mentioning that there are very good reasons for choosing geometric forms such as the pentagram. Geometry expresses, as do numbers, which are the basis of the Qabalah, spiritual ideas in their purest, simplest form. To argue against these expressions of simple beauty and truth merely betrays dishonesty. It is for precisely this reason that the pentagram, the "wizard's foot" of old, was chosen as a means of obtaining supremacy over lying, deceitful spirits.
Having explained some of the underlying theory, we can move on to the practice of the ritual itself. For the benefit of the weaker souls who still cling to the superstition of "authentic, original, authoritative" editions, and who hope to find such authenticity in the "genuine" rituals, discovered left behind in the bottom drawer of some worthy old gentleman's antique cabinet,[6] I hasten to mention that the Qabalistic Cross here differs slightly from that given in Magick in Theory & Practice. For this I make no apologies. I was never particularly satisfied with the method involving the use of one hand only (usually given as the right hand, although left-handed ritualists should - as they would if they were engaged in mortal combat - use their left, as their best and most advantageous). The method of using both hands has a very ancient tradition of its own, one only has to examine the ritual gestures and dances of the eastern tradition, as well as shown in ancient Egyptian papyri and on tomb and temple walls. There are zones or chakras in the palms of the hands which link to powerful centres in the brain, and the corresponding centres in the subtle body. There is far more to the familiar prayer gesture widely adopted by Christianity than a mere symbolic act. I must mention, while on this subject, that the idea of ritual being "symbolic" is an erroneous one. Ask any Catholic priest, if possible one from a monastic tradition such as the Benedictine.
Finally, as well as altering the accompanying gestures of the Qabalistic Cross, I have in other places restored the ritual somewhat. Although the idea has gained popularity recently, I have never seen fit to use the Sign of the Enterer[7] in the ordinary banishing rituals. I reserve this sign - which is important enough to warrant an essay all to itself - for more specific invocations that usually follow after preliminary banishings. Another popular idea originating from the writings of Israel Regardie, is that the pentagrams should be visualised in a bright blue, or "gas jet blue" colour. Although I can see nothing wrong in having them in bright blue, I find it far more effective to follow the original instructions in Magick in Theory & Practice, which exhort the practitioner only to ensure that they are seen flaming. Fire, is of course, the natural correspondence of Mars, and therefore of the pentagram.

Urgensi Al-Qur’an Bagi Kaum Muslimin

Diposkan oleh Unknown On 05.28 0 komentar

Urgensi Al-Qur’an Bagi Kaum Muslimin


Al-Qur’an yang diturun­kan Allah SWT secara berang­sur-angsur selama 23 tahun te­lah merubah kehidupan bangsa Arab yang terbelakang, jahiliyah dan ummi menjadi umat yang maju bahkan mampu menak­lukkan dua negara adidaya kala itu, yaitu Romawi dan Persia. Membebaskan bangsa-bangsa dari belenggu kezaliman pengua­sa dan kegelapan kebudayaan mereka. Bangsa yang ber­macam-macam itu melebur menjadi satu umat, yakni umat Islam. Bahasa mereka pun menjadi satu yakni bahasa Arab, bahasa al-Qur’an mereka.

Berabad-abad dalam naungan Khilafah Islamiyyah, al-Qur’an menjadi pedoman hidup kaum muslimin, mereka terapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. al-Qur’an juga menjadi bacaan mereka sepan­jang masa.

Tak satu pun kitab yang dibaca oleh begitu banyak orang, dihafal huruf demi huruf, dipelajari dan dibicarakan, mele­bihi al-Qur’an. Al-Qur’an bukan hanya dipelajari isinya, tetapi juga susunan redaksinya, pemi­lihan kosa katanya, kandungan maknanya yang tersurat dan tersirat hingga pada kesan yang ditimbulkannya. Semua itu di­tuangkan dalam berjilid-jilid buku yang ditulis oleh banyak ulama. Tidak satu pun bacaan yang di­atur tata cara membacanya, pan­jang-pendeknya, tebal-tipisnya, berhenti tidaknya, lagu dan ira­manya, juga etika membacanya seperti halnya al-Qur’an.

Tentang pengaruh ba­caan terhadap perubahan ma­syarakat, terdapat suatu pene­litian oleh seorang guru besar Harvard University AS di empat puluh negara untuk mengetahui faktor kemajuan atau kemunduran negara. Hasilnya menunjuk­kan bahwa salah satu faktor utamanya adalah materi bacaan yang disuguhkan dan dibaca oleh masyarakat.

Fakta sejarah menun­jukkan bahwa kebangkitan bang­sa Arab yang pertama kali me- meluk Islam itu sangat dipenga­ruhi oleh al-Qur’an. Apa raha­sianya?

Kemukjizatan Al-Qur’an


Al-Qur’an memiliki tiga fungsi utama. Pertama, sebagai mukjizat abadi Nabi Muhammad saw. Kedua, sebagai pedoman hidup (minhajul hayah) kaum muslimin. Ketiga, sebagai media ibadah kaum muslimin.

Al-Qur’an adalah mukji­zat terbesar yang dimiliki Rasulu­llah SAW. Al-Qur’an telah menun­dukkan bangsa Arab yang pada waktu itu berada di puncak kesu­sasteraannya. Mereka tidak mampu membuat karya sastera, yang keindahan bahasanya semisal dengan al-Qur’an, apa­lagi yang melebihinya. Allah SWT telah menantang mereka:

"Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong- penolongmu selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar." (QS. Al-Baqarah [2]: 23-24).

Istimewanya, kemukji­zatan al-Qur’an itu terus berlaku sepanjang masa meskipun Rasulullah saw yang membawa­nya telah tiada. Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan se­sungguhnya kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr [15]: 9).

Jika Rasulullah SAW mampu membuktikan kera­sulannya dengan al-Qur’an dan generasi pertama kaum muslimin mampu mengalahkan Quraisy dan sekutu-sekutunya dengan al-Qur’an, maka insyaallah kaum muslimin masa kini pun akan mampu memenangkan persai­ngan global dengan al-Qur’an.

Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup (Min­hajul Hayah)


Al-Qur’an menerangkan perjalanan yang telah dan akan dialami oleh manusia. firmanNya:

"Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya ma­ti, lalu Allah menghidupkan ka­mu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan kembali, kemu­dian kepada-Nya kamu dikemba­likan." (QS. Al-Baqarah [2]: 28).

Akhir perjalanan hidup manusia adalah di akhirat kembali kepada Allah SWT. Oleh karena itu, orientasi hidup seorang muslim adalah akhirat. Al-Qur’an sering menekankan pentingnya kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia dan membimbing seorang muslim agar senantiasa mengejar suk­ses hidup di akhirat tanpa melu­pakan kehidupan dunia. Firman Allah SWT:

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) du­niawi…” (QS. Al-Qashash [28]: 77).

Ayat tersebut memberi­kan pandangan yang jelas akan cita-cita dan target hidup seorang muslim, yakni mendapatkan posi­si terbaik di akhirat tanpa melu­pakan dan meninggalkan kehi­dupan dunia, melainkan justru terjun dalam kancah kehidupan dan menikmati berbagai kenik­matan dunia. Hanya saja cara­nya menikmati dunia tidak seperti orang-orang yang berfikir bahwa kehidupan ini hanya di dunia saja. Mereka sangat rakus tamak dan mencintai dunia dan ber­mewah-mewah dengan kenik­matan dunia.

Sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia, al-Qur’an telah menjelaskan sega­lanya --rinci maupun global-- yang diperlukan untuk meme­cahkan prolematika hidup manu­sia dari masa ke masa. Dari ayat-ayatnya, ulama mujtahidin menggali hukum untuk menyele­saikan problem-problem baru. Tiada habisnya ayat-ayat al-Qur’an mampu menjawab selu­ruh tantangan zaman bagaikan sumur zam-zam yang tidak pernah kering airnya.

Ayat-ayat al-Qur’an se­nantiasa menyinari kehidupan kaum muslimin. Disamping mem­berikan gambaran yang jelas ten­tang masa depan hakiki umat manusia, al-Qur’an juga menje­laskan dan memecahkan berba­gai persoalan praktis kehidupan manusia di bumi. Berkaitan de­ngan kehidupan manusia se­bagai hamba Allah, al-Qur’an menjelaskan hukum-hukum ibadah seperti do'a, dzikir, shalat, puasa, zakat, dan haji. Bahkan puncak penghambaan kepada Allah yang membutuhkan pe­ngorbanan tertinggi pun telah dijelaskan oleh al-Qur’an ketika memaparkan hukum-hukum ber­kaitan dengan jihad fi sabilillah. Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Allah telah mem­beli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mere­ka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh dan terbunuh..." (QS. At Taubah [9]: 111).

Berkaitan dengan pem­bentukan sifat-sifat pribadi luhur, al-Qur’an menjelaskan hukum-hukum tentang akhlaqul karimah, seperti jujur dan adil. Allah ber­firman :

"...Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu ka­um, mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa..." (QS. Al-Maidah [5]: 8).

Untuk menjaga kelestarian jenis manusia, al-Qur’an menjelaskan berbagai hukum tentang per­kawinan, seperti penyusuan, pengasuhan anak, nafkah, waris, kehidupan perkawinan, perseli­sihan dalam perkawinan hingga perceraian.

Dalam mengatur kehi­dupan masyarakat, al-Qur’an menjelaskan hukum-hukum ber­kaitan dengan sistem pemerin­tahan. Menurut al-Qur’an, kaum muslimin wajib taat kepada Allah, RasulNya, dan Ulil Amri. Allah SWT berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu..." (QS. An-Nisaa' [4]: 59).

Ulil amri yang wajib dita’ati tersebut berkewajiban mengemban amanah melaksa­nakan pemerintahan dengan menjalankan hukum-hukum Allah yang tercantum dalam al-Qur’an dan as-Sunnah dan mereka tidak boleh terpengaruh oleh hawa nafsunya sendiri maupun hawa nafsu masyarakat. Firman Allah SWT:

"Dan hendaklah kamu memu­tuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu me­ngikuti hawa nafsu mereka..." (QS. Al-Maidah [5]: 49).

Jika terjadi perselisihan antara rakyat dan penguasa ka­um muslimin, al-Qur’an menyu­ruh kedua pihak kembali kepada hakim yang akan menunjukkan jalan keluarnya berdasarkan hu­kum Allah dan RasulNya. Allah berfirman:

"...Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul-Nya (sun­nahnya)..." (QS. An-Nisaa' [4]: 59).

Berkaitan dengan eko­nomi, al-Qur’an menjelaskan ber­bagai hukum seputar kepemilik­an, pengelolaan, dan pendistribu­sian harta. Secara umum semua harta yang ada di langit dan bumi ini diciptakan untuk manusia (QS. Al-Baqarah [2]: 29) halal. Namun ada harta-harta tertentu yang tidak boleh dimiliki misalnya khamr dan babi. Juga ada cara-cara memilki harta tertentu yang dilarang seperti mencuri dan me­rampok. Dalam mengelola harta, Allah menghalalkan jual beli tetapi mengharamkan riba dan perjudian. Dalam masalah distri­busi harta, al-Qur’an mencegah terakumulasinya harta di kalang­an orang-orang kaya saja. Allah SWT berfirman :

"...Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu..." (QS. Al-Hasyr [49]: 7).

Dengan demikian, al-Qur’an menjadi petunjuk dan pedoman hidup (minhajul hayat) kaum muslimin dalam menjalan­kan amal individual maupun so­sial, sehingga mereka dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Al-Qur'an Media Ibadah


Faktor terpenting yang menjamin keberlangsungan fung­si al-Qur’an sebagai pedoman hidup kaum muslimin adalah penguasaan mereka terhadap isi kandungan al-Qur’an. Pengua­saan dan pemahaman mereka terhadap al-Qur’an dijamin oleh hukum-hukum ibadah yang berkaitan dengan al-Qur’an seperti membaca (tilawah), mempelajari (tadaarus), dan memelihara hafalan (ta'ahud) al-Qur’an.

Jika kaum muslimin hari ini ingin memimpin dunia maka mereka harus menempatkan al-Qur’an pada kedudukan yang sebenarnya yakni sebagai muk­jizat teragung Rasulullah SAW, sebagai media ibadah dan se­bagai pedoman hidup. Wallahu a'lam

Aktivitas Untuk Mendapatkan Petunjuk dalam Al-Qur’an

Tidak berhenti sampai disini. Setelah mengimani al-Qur’an sebagai kalamullah, Allah SWT memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Membaca Al-Qur’an

Seorang muslim akan berupaya sekuat tenaga membaca al-Qur’an secara rutin. Ia merasa ada kekurangan dalam dirinya bila dalam satu hari saja tidak membaca al-Qur’an. Bagaimana tidak, al-Qur’an merupakan firman Allah SWT yang berisi surat-surat dariNya. Berisi petunjuk dariNya. Karenanya ia senang membacanya, senantiasa terdorong untuk melatunkannya.
Selain dorongan kuat yang lahir dari keimanannya seperti tadi, seorang muslim meyakini pula bahwa Rasulullah SAW seringkali memerintahkan hal tersebut. al-Qur’an akan menjadi penolong bagi siapa saja yang membacanya. Abu Umamah ra. Menyatakan ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Bacalah al-Qur’an karena sesungguhnya al-Qur’an itu nanti pada hari kiamat akan datang untuk memberi syafaat kepada orang yang membacanya.” [HR. Muslim].

Bahkan dalam riwayat yang lain:

“Orang yang membaca al-Qur’an dan ia mahir maka nanti akan bersama-sama dengan para malaikat yang mulia lagi taat, kemudian Rasulullah melanjutkan “Orang yang membaca al-Qur’an dan ia merasa susah didalam membacanya tetapi ia selalu berusaha maka ia mendapat dua pahala” [HR. Bukhari dan Muslim].

Balasan membaca al-Qur’an itu juga berlipat ganda:

“Barang siapa membaca satu huruf dari kitabullah (al-Qur’an) maka ia mendapat satu kebaikan. Setiap kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” [HR. At-Tirmidzi].

Jika dibacakan al-Qur’­an, mereka akan mendengar dan memperhatikan dengan penuh kesungguhan. Firman Allah SWT:

"Dan apabila dibacakan al-Qur’­an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-A'raaf [7]: 204).

Bila sudah nyata demikian, maka akan merugilah orang-orang yang tetap tidak mau membiasakan membaca al-Qur’an.


2. Memahami Al-Qur’an

Allah SWT menurunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Oleh karenanya, tidak cukup hanya sekedar dibaca, melainkan juga harus dipelajari untuk dapat dipahami. Bila tidak, seseorang hanya akan menikmati indahnya bacaan tanpa memahami kandungan yang dibaca. Apalagi pemahaman kita tentang al-Qur’an itu masalah persoalan utama dalam hidup kita, yang menentukan apakah masuk surga atau neraka !? Apakah bahagia atau nestapa!?

Lebih dari itu, mempelajari al-Qur’an merupakan perintah dari Allah SWT dan RasulNya. Berkaitan dengan hal ini Nabi SAW bersabda:

“Bila suatu kaum berkumpul pada salah satu rumah-rumah Allah (masjid) dimana mereka membaca dan mempelajari al-Qur’an maka turunlah ketenangan ditengah-tengah mereka, serta mereka selalu diliputi oleh rahmat, dikerumuni oleh malaikat, dan disebut-sebut Allah SWT didepan malaikat yang berada di sisi-Nya.” [HR. Muslim].

Subhanallah. Orang yang membaca dan mempelajari al-Qur’an akan hidup tenang, mendapatkan rahmat Allah, dikerumuni malaikat, dan dipuji-puji oleh Allah SWT Dzat Maha Terpuji. Disamping memberikan harapan baik seperti ini, Allah SWT pun mencela keras mereka yang tidak mempelajari al-Qur’an.

“Maka apakah mereka tidak mengkaji al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci” (QS. Muhammad [47]: 24)

Nyatalah betapa urgennya mempelajari dan memahami al-Qur’an. Saking pentingnya memahami al-Qur’an, semestinya memahami al-Qur’an dijadikan sebagai kebutuhan makan sehari-hari, bahkan lebih dari itu. Makan hanya sekedar mengokohkan tubuh. Sedangkan memahami al-Qur’an merupakan petunjuk arah menuju kebahagiaan hakiki dan abadi!


3. Mengamalkan Al-Qur’an

Seperti telah dipahami, al-Qur’an bukanlah merupakan kumpulan pengetahuan belaka, melainkan merupakan petunjuk hidup. al-Qur’an tidak sekedar dibaca dan dipahami melainkan harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah SAW dalam berbagai haditsnya menegaskan bahwa siapapun yang berpegang pada al-Qur’an dan As Sunnah tidak akan tersesat selama-lamanya.

Allah SWT berfirman:

“Dan apa-apa yang diperintahkan oleh Rosul, ambillah! Dan apa-apa yang dilarang olehnya, tinggalkanlah!” (QS. Al-Hasyr [49]: 7).

Jadi setiap ajaran yang ada dalam al-Qur’an mutlak dilakukan. “Kami mendengar dan kami taat” begitu prinsip yang harusnya dipegang oleh seorang muslim. Alangkah ruginya orang yang memahami al-Qur’an tetapi tidak mengamalkannya. Orang seperti itu laksana pohon yang tidak berbuah. Bahkan ilmunya tidak bermanfaat. Allah SWT berfirman:

”Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepada mereka Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya (tidak mengamalkan isinya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amat buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang dzalim.” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 5).

4. Mengajarkan Al-Qur’an

Sabda Rasulullah:

”Sebaik-baik kamu sekalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan al-Qur’an.” [HR. Muslim].

Hadits ini menggambarkan perintah untuk mengajarkan al-Qur’an. Tentu saja mengajarkan al-Qur’an mencakup mengajarkan cara membacanya termasuk tajwidnya. Namun, tidak hanya itu. Mengajarkan al-Qur’an juga mengajarkan isi kandungan al-Qur’an. Bagaiaman tidak al-Qur’an itu merupakan wahyu yang diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, dan pembeda antara yang haq dan yang bathil. Semua perkara itu tidak dapat dicapai hanya dengan pintar membacanya, tetapi perlu juga memahami apa yang dikandungnya.

Allah SWT berfirman:

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hujjah (hikmah), nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan debat yang terbaik.” (QS. An-Nahl [16]: 125).


Maraji’:

Menjadi Pembela Islam, MR Kurnia, PSKII, 2001
Buletin Al-Ihsan

Shalat

Diposkan oleh Unknown On 05.26 0 komentar

Shalat

Masih banyak dari kita mengabaikan masalah shalat ini, baik berupa meninggalkan-nya maupun tidak menyempurnakan ibadahnya. Padahal shalat merupakan salah satu rukun Islam dan ibadah pertama yang akan dihisab di yaumil akhir nanti. Bisa jadi amal ibadah yang lain tidak dinilai oleh Allah swt karena kita tidak menjalankan ibadah shalat.

Sesungguhnya shalat itu wajib atas orang-orang beriman pada waktu yang telah ditentukan. (Qs. an-Nisaa' [4]: 103).

Amal pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat nanti adalah sholatnya, jika sholatnya baik maka baiklah seluruh amalnya dan jika sholatnya rusak maka rusaklah seluruh amalnya. [HR Thabrani].

Kita akan coba diskusikan dua masalah shalat yang sering kita abaikan tersebut, yakni meninggalkannya dan tidak sempurna menjalankannya.


Meninggalkan Shalat

Shalat merupakan kewajiban utama umat Islam baik laki-laki maupun wanita, tidak ada rukhsah (keringanan) meninggalkan shalat selain yang telah digariskan oleh syariat Islam (seperti: haid, mabuk/gila/hilang akal, belum baligh, dan lain-lain). Bahkan seseorang yang sudah sakit keras dan sudah mendekati ajal sekalipun tetap wajib melakukan shalat, kalau mereka tidak mampu berdiri maka boleh duduk, masih tidak mampu duduk maka boleh berbaring, masih tidak mampu berbaring maka boleh dengan gerakan mata.

Begitulah pentingnya kewajiban shalat, sehingga kalau kita terlupa/tertidur mengerjakannya maka boleh mengerjakan setelah ingat. Jika tidak ada air untuk berwudhu’ maka kita boleh bertayamum.

Ancaman Allah Swt sangat berat bagi orang-orang yang meninggalkan shalat,

(Batas) antara seseorang dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat. [HR. Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah].

Apakah yang membuat kalian masuk ke dalam Neraka Saqar?' Mereka menjawab, '(Karena) kami dulu tidak termasuk orang-orang yang mendirikan shalat.' (Qs. al-Muddatstsir [74]: 4).

Kadang kita terlena dengan aktiftas meeting, menyelesaikan pekerjaan, menonton pertandingan sepak bola, acara pesta dan kesibukan lainnya sehingga meninggalkan shalat. Padahal semua aktifitas diatas hanya mubah saja (boleh) sedangkan shalat wajib hukumnya bagi seorang muslim, alangkah ruginya kita bila mendahulukan yang mubah dan meninggalkan yang wajib.


Shalat Tidak Sempurna

Yang paling sering ketidak-sempurnaan shalat adalah “terburu-buru”, kita betah berlama-lama menoton acara TV, bisa asyik mengobrol dengan teman, mampu dengan sabar antri membeli tiket bioskop/sepak bola, asyik dan tekun dalam bekerja. Tetapi dalam melakukan shalat yang berkisar 10 menit saja sangat terburu-buru, seolah gerah dan tidak betah berlama-lama menghadap Allah swt.

Shalat merupakan rangkaian ibadah yang merupakan wujud penghambaan diri dan komunikasi manusia dengan Allah swt. Kalau kita telaah bacaan shalat maka dapat kita pahami bacaan shalat tersebut merupakan pujian dan permohonan do’a kepada sang Khalik. Bila dibandingkan dengan kehidupan sehari-hari, bagaimana mungkin kita memohon belas kasihan kepada seseorang dengan terburu-buru dan tidak sopan (sesuai aturan).

Seburuk-buruknya orang yang mencuri adalah orang yang mencuri shalatnya. Para sahabat bertanya: ‘Ya Rasulullah, bagaimana bisa seseorang mencuri shalatnya?’. Beliau menjawab: ‘Ia tidak menyempurnakan ruku’-nya maupun sujudnya.’ [HR Ahmad].

Begitulah sedikit tausiah tentang shalat, semoga bermanfaat.

Wallahua’lam,

Mendudukkan Orientalis

Diposkan oleh Unknown On 00.29 0 komentar


Mendudukkan Orientalis

Tulisan Adnin Armas (Orientalisme dan Teori Pengaruh' Terhadap Islam; Republika, Kamis, 6 Mei 2004) dan tulisan Pradana Boy ZTF (Bersikap Adil Terhadap Peradaban; Republika, Selasa, 11 Mei 2004) pada intinya sama: mengajak kaum Muslim untuk bersikap kritis terhadap orientalis, Barat, dan tidak bersikap apriori dalam menyikapi pemikiran asing.
Sebenarnya, saya yakin, Adnin Armas tidak mempunyai sikap apriori terhadap Barat seperti yang tersirat dalam tanggapan Pradana. Sebab Adnin Armas lulus program master di ISTAC-IIUM, di bawah bimbingan seorang orientalis, Prof Paul Letink, pakar fisika nuklir dan filsafat/sains Islam. Ia juga sempat belajar bahasa Latin dan Greek beberapa tahun. Guru Letink, Hans Deiber, pakar sejarah filsafat Islam, juga pernah mengajar Adnin di ISTAC. Meskipun dikenal sebagai profesor yang otoritatif di bidang sejarah filsafat Islam, Deiber misalnya, tetap juga berpegang pada pendapatnya, bahwa al-Quran ditulis oleh Muhammad. Namun di ISTAC para orientalis tidak hanya diminta mengajar bidangnya tapi juga diminta meluruskan pemikirannya tentang Islam yang salah.
Pendiri ISTAC, Prof Naquib al-Attas, pernah menegur Deiber, bahwa di ISTAC dia tidak mengajar Islam, ia hanya diminta mengajar sejarah filsafat Islam dalam kaitannya dengan kebangkitan Barat. Demikian pula Paul Letink. Sebab, kata al-Attas, pakar-pakar Muslim lebih tahu tentang Islam. Jadi, sikap tidak apriori terhadap Barat justru diajarkan di ISTAC, tapi sekaligus diajarkan sikap kritisnya.
Dalam kajian berbagai bidang keilmuan, termasuk bidang Islamic Studies, harus diakui, Barat/orientalis telah mencapai tahap perkembangan besar dengan segala motifnya, baik motif keilmuan, keagamaan, atau pun motif politik-ekonomi. Karena itulah, sikap kritis sangat diperlukan. Masalahnya adalah bagaimana dapat bersikap kritis? Apa metodologi dan bekal untuk bersikap kritis? Tanpa penguasaan yang baik terhadap kedua khazanah: Islam dan Barat, maka sulit diharapkan, akan muncul sikap kritis yang benar. Bisa-bisa yang terjadi sebaliknya: menyangka telah bersikap kritis, tetapi justru yang terjadi adalah mengkritisi Islam dengan cara pandang non-Muslim.
Al-Attas bahkan menyatakan bahwa sekarang ini kita tidak akan dapat mengetahui masalah yang dihadapi umat Islam jika tidak mengetahui perbedaan Islam dan Barat. Namun ia tidak berbicara Barat dalam pengertian politik. Apa yang ia tekankan adalah dalam aspek pemikiran atau secara umum aspek pandangan hidup. Terdapat perbedaan bahkan pertentangan permanen antara pandangan hidup Islam dan Barat. Oleh Sebab itu jika kita mempelajari pemikiran orang Barat, khususnya orientalis, kita perlu mengkaji pula pandangan hidup yang menjadi asumsi dasar pemikiran tersebut. Pandangan hidup yang dimaksud terdiri dari konsep Tuhan, konsep manusia, konsep kehidupan, konsep kenabian, konsep alam, dan lain-lain.
Pada dasarnya, tidak ada perubahan yang signifikan dan substansial antara orientalis dulu dan sekarang. Malah, Shireen T Hunter, dalam satu tulisannya berjudul The Rise of Islamist Movements and The Western Rresponse: Clash of Civilizations or Clash of Interests? menyebut, ilmuwan kontemporer seperti Bernard Lewis, termasuk tokoh aliran "neo-orientalis" yang berbeda dengan aliran neo-third-world. Pola pikir "neo-orientalis" Lewis itulah yang mewarnai isi buku barunya, The Crisis of Islam, yang begitu banyak membela politik neo-konservatif AS.
Singkatnya, kajian-kajian keislaman para orientalis bagaimana pun ilmiahnya, ia tetap berpijak pada pre-supposisi Barat, dan terkadang Kristen. Prinsip dasar bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, dan al-Quran adalah firman Allah tidak menjadi asas bagi kajian mereka. Ini bisa dipahami, sebab dengan mengakui kerasulan Nabi Muhammad berarti mereka mengakui Islam sebagai agama terakhir. Mereka tidak mungkin pula mengakui al-Quran sebagai firman Allah. Sebab al-Quran memuat banyak kecaman terhadap doktrin-doktrin agama Yahudi dan Nasrani, seperti: "Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata sesungguhnya Allah ialah al-Masih putera Maryam"(al-Maidah 5: 17; dan juga 5: 72); "Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga" (al-Maidah (5: 73); "Dan karena ucapan mereka sesungguhnya kami telah membunuh Isa al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka (al-Nisa 4: 157); dan berbagai ayat lainnya.
Kandungan al-Quran yang mengecam ajaran Yahudi dan Kristen seperti itu jelas akan menuai reaksi balik sepanjang masa. Seorang Kaisar Bizantin, Leo III (717-741 M), misalnya, telah menuduh al-Hajjaj ibn Yusuf al-Tsaqafi, seorang gubernur di zaman kekhalifahan Abdul Malik ibn Marwan (684-704 M) telah mengubah al-Quran (Arthur Jeffery, "Ghevond's Text of the Correspondence between Umar II and Leo III, Harvard Theological Review, 269-332).
Peter, pendeta di Maimuma, pada tahun 743 menyebut Rasululllah SAW sebagai nabi palsu. Yahya al-Dimasyqi atau dikenal juga sebagai John of Damascus (m. 750) juga menulis dalam bahasa Yunani kuno kepada kalangan Kristen ortodoks bahwa Islam mengajarkan anti-Kristus. John of Damascus berpendapat bahwa Muhammad adalah seorang penipu kepada orang Arab yang bodoh. Dengan liciknya, katanya, Muhammad bisa mengawini Khadijah sehingga mendapat kekayaan dan kesenangan. Dengan cerdasnya, Muhammad menyembunyikan penyakit epilepsinya ketika menerima wahyu dari Jibril. Muhammad memiliki hobi perang karena nafsu seksnya tidak tersalurkan. (Daniel J Sahas, John of Damascus on Islam: "The Heresy of the Ishmaelites", Leiden: E. J. Brill, 1972, hlm. 67-95).
Seirama dengan John of Damascus, Pastor Bede dari Inggris yang hidup pada tahun 673-735 M berpendapat bahwa Muhammad adalah seorang manusia padang pasir yang liar (a wild man of desert). Bede menggambarkan Muhammad sebagai kasar, cinta perang dan biadab, buta huruf, status sosial yang rendah, bodoh tentang dogma Kristen, dan tamak kuasa, sehingga ia menjadi penguasa dan mengklaim sebagai seorang nabi.
Sikap menghina Rasulullah SAW berlanjut pada zaman pertengahan Barat. Pada saat itu, Rasulullah SAW disebut sebagai Mahound, atau juga Mahoun, Mahun, Mahomet, di dalam bahasa Prancis Mahon, di dalam bahasa Jerman Machmet, yang sinonim dengan setan, berhala. Jadi, Muhammad bukan sebagai seorang nabi palsu. Lebih dari itu, ia merupakan seorang penyembah berhala yang disembah oleh orang Arab yang bodoh.
Pada zaman kelahiran kembali (Renaissance) Barat dan zaman Reformasi (Reformation) Barat, image buruk terus berlanjut. Marlowes Tamburlaine menuduh al-Quran sebagai karya setan. Martin Luther menganggap Muhammad sebagai orang jahat dan mengutuknya sebagai anak setan. Pada zaman Pencerahan Barat, Voltaire menganggap Muhammad sebagai fanatik, ekstremis, dan pendusta yang paling canggih. Biografi Rasulullah SAW beserta al-Quran terus menjadi target. Snouck Hurgronje mengatakan: "Pada zaman skeptik kita ini, sangat sedikit sekali yang di atas kritik, dan suatu hari nanti kita mungkin mengharapkan untuk mendengar bahwa Muhammad tidak pernah ada (in our skeptical times there is very little that is above criticism, and one day or other we may expect to hear that Muhammad never existed).
Harapan Hurgronje ini selanjutnya terealisasikan dalam pemikiran Klimovich, yang menulis sebuah artikel diterbitkan pada tahun 1930 dengan berjudul "Did Muhammad Exist?" Dalam artikel tersebut, Klimovich menyimpulkan bahwa semua sumber informasi tentang kehidupan Muhammad adalah buat-buatan. Muhammad adalah fiksi yang wajib karena selalu adanya asumsi bahwa setiap agama harus mepunyai pendiri. Sikap para orientalis seperti itu tidak bisa disederhanakan kategorisasinya menjadi orientalis klasik yang berbeda dengan orientalis kontemporer.
Orientalis kontemporer tetap mengusung gagasan orientalis klasik sekalipun dengan kadar, level, cara dan strategi yang berbeda. Intinya sama saja yaitu mengingkari kenabian Muhammad dan kebenaran al-Quran. Penolakan seperti itu adalah loci communes (common places) dalam pemikiran para orientalis. Ini bisa dimengerti karena eksistensi agama mereka tergugat dengan munculnya Islam. Karena hal ini juga, wajar jika kajian mereka kepada Rasulullah SAW dan al-Quran tidak dibangun dari keimanan, sebagaimana sikap seorang Muslim.
Para orientalis yang mengkaji bidang teologi dan filsafat Islam sejak DB MacDonald, Alfred Gullimaune, Montgomery Watt, atau sebelumnya hingga Majid Fakhry, Henry Corbin, Michael Frank, Richard J McCarthy, Harry A Wolfson, Shlomo Pines, dan lain-lain mempunyai framework yang hampir sama. Di antara asumsi yang umum mereka pegang erat-erat adalah bahwa filsafat, sains, dan hal-hal yang rasional tidak ada akarnya dalam Islam. Islam hanyalah "carbon copy" dari pemikiran Yunani. Padahal diskursus filsafat di Ionia tidak ada apa-apanya dibandingkan wacana yang bersifat metafisis pada awal tradisi pemikiran Islam yang berkembang di zaman Nabi dan sahabat. Artinya para orientalis tidak mau mengakui bahwa pandangan hidup Islam adalah unsur utama berkembangnya peradaban Islam.
Sikap simpatik para orientalis terhadap Islam tidak serta merta menjadikan pemikiran mereka menjadi benar. Sebab, asumsi dan juga konsekuensi dari framework di atas adalah pengingkaran terhadap tradisi intelektual Islam yang berbasis pada wahyu. Transmisi ilmu pengetahuan melalui sumber yang disebut kabar mutawatir tidak diakui oleh mereka sebagai valid.
Jadi, sekalipun pengetahuan mereka tentang sejarah pemikiran keislaman mendalam, namun kajian mereka tetap fragmentatif. Mereka tidak menghubungkan kajian mereka tentang Islam yang spesifik dengan prinsip yang umum dan universal. Kajian mereka tentang hal-hal yang spesifik seperti tentang sejarah al-Quran, etika dalam Islam, politik dalam Islam, dan lain-lain tidak dikaitkan dengan makna Islam sebagai suatu agama dan pandangan hidup yang memiliki prinsip dan tradisinya sendiri. Prinsip bahwa ilmu mendorong kepada iman, misalnya, tidak tecermin dalam tulisan-tulisan mereka. Ilmu-ilmu keislaman yang mereka miliki tidak mendorong pembacanya untuk beriman kepada Allah SWT. Tidak juga membuat mereka sendiri yakin dengan kebenaran Islam. Dan yang jelas mereka tidak bisa disebut sebagai ulama.
Sebagai penutup perlu dicatat bahwa Islam adalah agama dan pandangan hidup yang telah melahirkan peradaban yang gemilang. Untuk mempertahankan dan mengembangan peradaban Islam tidak berarti menolak mentah-mentah masuknya unsur-unsur peradaban asing. Sebaliknya untuk bersikap adil terhadap peradaban lain tidak berarti bersikap permisif terhadap masuknya segala macam unsur dari peradaban lain tanpa proses adaptasi.
Dosen ISID Pondok Modern Gontor Ponorogo
www.republika.co.id
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Hostgator Coupon Code